Lembaga Amil Zakat Nasional

Selama 20 tahun dipercaya mengelola dana ZAKAT, INFAK, SEDEKAH dari para dermawan untukk kebaikan Ummat

Daftar Jadi Donatur Daftar jadi Relawan

Our Services

Program Dakwah

Ujung tombak para penyeru kebaikan di daerah pelosok, terdalam dan terluar di seluruh NUSANTARA perlu kita dukung dengan program berbagi kebaikan

Read More

Program Pendidikan

Pendidikan menjadi pilar pembangunan Nasional untuk Indonesia lebih baik lagi. Layakkan pendidikan bagi anak generasi kita

Read More

Program Ekonomi

Ayo Bangkit dari keterpurukan perekonomian pasca pandemi dengan program kemanfaatan untuk pelaku usaha UMKM di Indonesia

Read More

Sosial Kemanusiaan

Bencana yang kerap melanda negeri kita menjadi moment terbaik kita untuk saling membantu dan meringankan beban penyitas bencana alam tersebut

Read More

Laporan Kegiatan kami

Kamis, 26 Maret 2015

Aceh dan Wahabi , Sebuah Wacana Menarik [1]



  • Terlepas dari berbagai kekurangan (namanya manusia) , diakui ataupun tidak , khususnya di Aceh, Wahabi memiliki kontribusi besar dalam memajukan pendidikan di Aceh.




Ribuan umat  Islam laksanakan shalat subuh berjamaah dengan diimami imam masjidil haram,Syeikh Adil Al Kabani dilanjutkan tausiyah di halaman Mapolda aceh , Banda Aceh , Ahad (1/3/2015).





Terlepas dari berbagai kekurangan (namanya manusia), diakui atau pun tidak, khususnya di Aceh, Wahabi memiliki kontribusi besar dalam memajukan pendidikan di Aceh.


Tidak seperti isu-isu lain yang hilang ditelan zaman, tapi isu tentang Wahabi (Wahabisme/Wahabiyah) terus menggelinding mengikut alur masa.
Nampaknya, sebelum dunia ini kiamat, topik tentang Wahabi tidak akan pernah mati dan bahkan akan terus menyita perhatian kaum muslimin dari dua kutub yang saling bertentangan.
Di satu pihak, Wahabiyah dianggap sebagai gerakan pemurnian agama paling sukses di panggung sejarah – yang di beberapa wilayah telah berhasil mengembalikan ajaran Islam ke dalam bentuk aslinya. Namun di pihak lain, gerakan Wahabi justru dianggap sebagai petaka yang telah merusak tradisi nenek moyang. Dalam perkembangan selanjutnya, ramai pula pihak-pihak yang menghubungkaitan Wahabi dengan ektrimisme dan terorisme.  Terlepas di kutub mana kita berdiri, tapi yang jelas isu Wahabi telah membuat kita saling bertegang urat saraf sesama kaum muslimin. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita bahwa kaum muslimin itu bagaikan tubuh yang satu, di mana ketika satu bagian tubuh merasa sakit, bagian lain juga ikut merasakan kesakitan itu. Namun yang terjadi hari ini, jauh panggang dari api, tanpa sengaja kita telah terjebak dalam skenario devide et impera yang dilancarkan oleh kaum kafirin.
Dalam beberapa literatur, di antaranya sebagaimana disebut oleh Ruray, bahwa stigma Wahabi adalah istilah yang digunakan oleh penjajah Inggris untuk menamakan ‘Gerakan Mujahidin’ di Deoband India.
Oleh sebagian pihak, Wahabi sering dicitrakan sebagai penentang adat istiadat sehingga istilah Wahabi menjadi momok yang menakutkan. Bahkan, tragisnya lagi, oleh sebagian kalangan, Wahabi telah dianggap sebagai golongan di luar Ahlus Sunnah Waljama’ah. Padahal jika ditelisik secara objektif, Wahabi juga bagian dari Ahlus Sunnah Waljama’ah, sama halnya dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, meskipun terdapat perbedaan yang ketat di beberapa sisi. Dalam hal teologi, banyak terdapat persamaan antara Wahabi (tepatnya baca Salafy) dengan pendapat-pendapat Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Demikian pula dalam bidang fiqh, umumnya Wahabi lebih dekat kepada Mazhab Hanbali, cuma saja, mereka tidak mengikatkan diri dengan mazhab-mazhab yang ada. Tapi, jika dicermati, pendapat-pendapat Salafiy “tidak pernah keluar” dari pusaran empat “Mazhab Mu’tabar”. Wallahu A’lam.
Aceh dan Wahabi
Aceh yang terletak di ujung Barat Indonesia sebenarnya juga telah “akrab” dengan dengan Wahabi. Pada masa-masa pergerakan kemerdekaan, di Aceh telah berdiri Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang diketuai oleh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh.
Secara idiologis, jika teliti dengan cermat, pemikiran keagamaan PUSA memiliki banyak kesamaan (untuk tidak menyebut identik) dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabiya pada abad ke 18.
Bahkan, berdasarkan riset yang pernah dilakukan oleh Djami’ah IAIN Ar-Raniry sekira tahun 70-an, disebutkan bahwa Tgk. Hasballah Indrapuri, seorang ulama di Aceh Besar menggunakan Kitab Tauhid karangan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam mengajarkan tauhid kepada umat.
Bahkan, di Aceh banyak ulama-ulama, khususnya di masa lampau yang pemikiran keagamaannya “serumpun” dengan pemikiran Salafiy, sebut saja Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie yang buku-bukunya masih dibaca sampai sekarang.
Uniknya lagi, ramai tokoh-tokoh Aceh di masa pergerakan kemerdekaan yang konsep keagamaannya serupa dengan Wahabi (Salafiy). Dan bahkan organisasi PUSA yang merupakan organisasi besar di Aceh kala itu, mayoritas anggotanya adalah “Wahabi”.
Terlepas dari berbagai kekurangan (namanya manusia), diakui atau pun tidak, khususnya di Aceh, Wahabi memiliki kontribusi besar dalam memajukan pendidikan di Aceh, khususnya pendidikan modern. Didirikannya Al-Muslim di Aceh, tepatnya di Kota Matangglumpangdua, yang pada perkembangan selanjutnya telah melahirkan sekolah-sekolah modern, sekolah tinggi dan universitas, merupakan bukti paling otentik bahwa Wahabi punya “pengaruh besar” kala itu.
Pengaruh Wahabi baru “meredup” di Aceh pada era 90-an, di mana – seiring dengan populernya Gerakan Aceh Merdeka, “hegemoni” gerakan tradisional semakin kuat di Aceh.
Demikianlah guliran sejarah yang tak bisa dihalau. Timbul-tenggelamnya suatu gerakan pemikiran dalam pentas sejarah adalah lumrah saja. Tapi, narasi di atas setidaknya bisa mengingatkan kita bahwa Wahabi bukanlah istilah baru di Aceh.
Suka tidak suka, senang tidak senang, Wahabi telah mengukir prestasi gemilang di masa lalu, khususnya di awal-awal kemerdekaan. Beberapa tokoh besar di Indonesia, semisal HOS Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Ahmad Dahlan, Hamka dan sederetan nama-nama besar lainnya, tentunya tidak bisa dipisahkan dari pengaruh Wahabi (meskipun tidak selamanya identik).

Demikian pula di Aceh, terkenal nama di antaranya, Teungku Daud Beureu-eh, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Hasballah Indrapuri, Ayah Hamid Namploh, Ali Hasyimi, Husen Al-Mujahid, M. Nur El-Ibrahimy dan sejumlah nama lainnya yang tidak mungkin semuanya disenaraikan dalam tulisan ini, adalah tokoh-tokoh yang (dalam banyak hal) tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Wahabi.

Rabu, 25 Maret 2015

Pilih Dada Sempit atau Dada Lapang


Jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang menguasainya





SUATU hari ada seorang ustadz didatangi seorang murid yang sedang di rundung masalah. Tanpa membuang waktu sang murid langsung menceritakan semua masalahnya.




Sang ustadz hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” kata Sang Ustadz.
“Asin, asin sekali,“ jawab murid itu sambil meludah ke samping.
Ustadz itu tersenyum, lalu mengajak muridnya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai di sana, Sang Ustadz itu kembali menaburkan garam ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah,” Kata Sang Ustadz.
Saat si murid mereguk air itu, ustadz kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar“, sahut si murid.
“Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu ?” tanya Ustadz.
“Tidak, ” sahut murid itu.

Ustadz tersenyum sambil berkata:

“Wahai muridku, dengarkan baik-baik. Problem dalam kehidupan, adalah layaknya segenggam garam ini. Semuanya sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Bahagia dan sengsara itu mengikuti perasaan tempat kita meletakkannya. Dadamu harus lapang dan hatimu harus bersih jika kamu ingin hidup damai dan bahagia dalam kondisi apapun.”

Ustadz itu lalu kembali menasehatkan: “Dada dan hatimu adalah wadah itu, tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap permasalahan dalam kehidupan ini, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Sang Ustadz menutup nasehatnya seraya berkata:

“Wahai muridku, jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya, dengan cara selalu taat dan patuh kepadaNya. Dia adalah Robbmu, penciptamu, pemilikmu dan pengatur semua tentang dirimu. Bacalah kitabNya, Al-Qur’an dan hiduplah sesuai dengan petunjukNya. Semoga engkau selamat, sukses dan bahagia wahai muridku, barokallah fiik“.


Allah berfirman:

Ùƒِتَابٌ Ø£َنزَÙ„ْÙ†َاهُ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙƒَ Ù…ُبَارَÙƒٌ Ù„ِّÙŠَدَّبَّرُوا آيَاتِÙ‡ِ ÙˆَÙ„ِÙŠَتَذَÙƒَّرَ Ø£ُÙˆْÙ„ُوا الْØ£َÙ„ْبَابِ

“Ini (Al-Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [QS: Shood [38]: 29] 

Berkata sebagian ahli tafsir
:
“Kami menyibukkan diri kami dengan membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an maka kamipun diliputi oleh keberkahan dan berbagai kebaikan.”*
Akhukum Fillah
.


 

Selasa, 24 Maret 2015

SARNAS Hidayatullah Giatkan Penanganan Bencana





Hidayatullah.or.id – Tim pencarian dan penyelamatan SAR Nasional Hidayatullah terus aktif melakukan kegiatan Pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan penanganan bencana alam di nusantara. Seperti telah dimafhum , bencana alam seringkali terjadi tanpa dapat di 
prediksi.


Karenanya, Ketua SARNAS Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf, dalam keterangannya kepada media di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan masyarakat harus selalu diimbau untuk membangun kewaspadaan terhadap berbagai macam kemungkinan gejolak alam.
Bencana seperti banjir, longsor, gempa, dan gejala alam lainnya, sedapat mungkin bisa dihadapi dengan persiapan yang bagus baik dari aspek fisik, mental, maupun spiritualitas. Agar dapat survive dalam kondisi berat, kata Syahar, ketiga hal tersebut harus bisa dijaga.,
“Sebab, bagaimana pun, gejala alam yang terjadi di sekitar kita seperti banjir dan sebagainya, boleh jadi memang karena ulah manusia juga. Karena itu SARNAS Hidayatullah memasuki ceruk ini untuk aktif mensosialisasikan pentingnya menjaga keseimbangan bumi,” kata Syaharuddin.
Gelaran kegiatan Diklat SARNAS Hidayatullah saat ini terus dipacu. Kata Syahar, setelah sebelumnya dilakukan diklat di Balikpapan selama lebih dari 2 pekan, pihaknya berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan serupa di tempat lain.
Pada Januari lalu, pihaknya menggelar acara pendidikan dan latihan (diklat) dasar untuk calon anggota pemula se-Kalimantan Utara (Kaltara). Acara ini digelar selama 10 hari (22 Desember – 1 Januari 2015) di Kota Tarakan.
Acara ini digelar di 2 tempat yakni di Kampus Hidayatullah Karungan (materi indoor) dan di Pantai Amal untuk materi praktik (outdoor). Acara ini diprakarsai oleh Syabab Hidayatullah Kaltara dan mendapatkan arahan langsung dari SAR Nasional Hidayatullah Pusat.
Kegiatan ini diikuti juga oleh perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) yang dalam hal ini yang tergabung di dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Diklat ini digelar atas kerjasama Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, TNI, Polisi, PMI dan didukung oleh beberapa perusahaan (BUMN) dan swasta.
Bersamaan dengan selesainya acara Diklat SAR Nasional Hidayatullah Kaltara, sekaligus mengukuhkan Ketua SAR Nasional Hidayatullah Kaltara dan pengurus. Pada kesempatan tersebut terpilih saudara Taufiq Abdul Mannan sebagai ketua SAR Nas Hidayatullah Kaltara Priode 2015-2018.
Pada bulan Maret ini kegiatan penempaan terus dilanjutkan. Pengurus Pusat SARNAS Hidayatullah pada Maret ini akan menggelar ekspedisi bagi anggotanya. Acara ini memang digelar secara nasional yang nantinya berkoordinasi dengan SARNAS Hidayatullah Jakarta sebagai tuan rumah.
Dijelaskan Syahar, sesuai dengan amanah Musyawarah Besar Nasional SARNAS Hidayatullah 2014, bahwasanya untuk seluruh anggota SAR Nasional Hidayatullah yang pernah mengikuti Diklat SAR, maka wajib mengikuti Ekspedisi SAR Nasional Hidayatullah yang diadakan setahun sekali.
“Banyak hal yang akan didapatkan anggota dalam ekspedisi ini. Lebih dari pada itu, seluruh anggota yang hadir dalam ekspedisi ini akan dilanjutkan dengan persiapan TOT Instruktur SAR Nasional Hidayatullah mendatang dengan sistem seleksi,” jelas Syahar.

Lebih jauh kata Syahar, kuota peserta ekspedisi kali ini hanya 30 Orang yang rencananya akan dilaksanakan pada 22-28 Maret 2015 dengan destinasi Ujung Kulon Jawa Barat. Adapun batas Pendaftaran adalah Tgl 18 Maret 2015.“Semoga rekan-rekan pengurus wilayah dapat mengirimkan wakil-wakilnya dalam acara ini,” pungkasnya (ybh/hio).




Dukung Informal Leader, Hidayatullah Malut Gelar Upgrading Dai











  Hidayatullah.or.id – Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kompetensi para dai dalam melakukan pengabdian dakwah dan pencerahan di berbagai daerah pelosok, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan PW Hidayatullah Maluku Utara (Malut) mengadakan kegiatan upgrading dai.


Acara yang dirangkai dengan silaturrahim kader Hidayatullah se-Ternate ini mengusung jargon “Pencerahan Kelembagaan” dengan tema “Membangun Ummat Menuju Maluku Utara Mandiri dan Bermartabat”.
Panitia pelaksana, Arif Ismail Hanafi, dalam keterangannya kepada media ini mengatakan, acara ini digelar dalam rangka mendukung kiprah dai ummat yang telah melakukan pengabdian kemasyarakatan di berbagai wilayah di Maluku, khususnya Ternate.
Peran dai seperti guru mengaji dan ustadz yang mengelola yayasan sosial dan pondok pesantren, jelas Arif Hanafi, adalah peran sentral dai dalam pembangunan umat.
Sebab itu, Arif Hanafi menilai dai harus selau mendapatkan sokongan dari berbagai pihak tidak saja lembaga zakat dan sebagainya. Tapi juga dai semestinya mendapatkan perhatian dari pemerintah mengingat perannya adalah sebagai informal leader (pemimpin masyarakat) di sekitarnya.
“Mereka para dai telah turut serta dalam mewujudkan keberlangsungan pendidikan umat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah yang kemudian mendorong Laznas BMH Ternate berkomitmen mendukung perjuangan para dai,” kata Arif Hanafi kepada Hidayatullah.or.id, Rabu (18/03/2015).
Mencerdaskan umat kata Arif adalah amanat undang-undang yang mestinya menjadi perhatian bersama. Pemerintah tentu saja akan kewalahan mengatasi ini sendirian. Maka, jelas Arif, peran dai, pesantren, dan ormas-ormas Islam, tidak bisa dinafikkan telah memberi kontribusi positif terhadap pembangunan sumber daya manusia anak negeri.
“Karenanya, kami mengucapkan terimakasih sebesarnya kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya yang selama ini telah mendukung program keummatan Laznas BMH Ternate ini,” pungask Arif Hanafi.
Kegiatan yang diselenggarakan di bilangan Wasile, Halmahera Timur ini berlangsung selama tiga hari (19-21/2015) yang dihadiri tim instruktur DPP Hidayatullah diantaranya adalah anggota Dewan Syuro Hidayatullah Al Hafidz Ustadz Aqib Junaid. (ybh/hio)

Senin, 23 Maret 2015

Syabab dan Peradaban Islam





DI ANTARA sejumlah organisasi pemuda islam di Tanah Air,Syabab Hidayatullah adalah yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik sama sekali.


Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader–kadernya di seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada juga di Timor Leste.
Syabab Hidayatullah adalah wadah generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.Organisasi ini bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.

Kebijakan politik Syabab Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi.


Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.
Itulah sebabnya wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat ini.

Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader–kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.

Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu AllahSubhanahu wa Ta’ala (SWT).

Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.

Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.

Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami dimanapun mereka berada.
Kini, Syabab Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur`an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.

Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur`ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Selanjutnya, mari kita bangun tekad bersama untuk mencerdaskan bangsa melalui dakwah. Jangan merasa ragu untuk berkorban apa saja demi tegaknya Islam di bumi Allah SWT ini. Wallahu a’lam.*

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Kontak Kami

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah BMH tetap berkhidmat bersama Ummat - WA 0851.0471.7000

Alamat:

Jalan Sidomakmur 15 Sengkaling Dau Malang

Jam Kerja:

Senin sampai Jumat pUkul 08.00 hingga 16.30

Phone:

0851.0471.7000

Recent Comments

Recent Posts