Berbagi Kebaikan untuk Sesama | WA. 085.104.717.000 | donasi via BCA 315.33.000.00
Tampilkan postingan dengan label #sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #sejarah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 06 Juni 2015
Adabiyah School bermula dari Madrasah Adabiah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909
Sambungan artikel PERTAMA
KETIKA La Oddang Datu Larompong, Arung Matoa Wajo ke-47,
memerintah Wajo dari tahun 1926-1933, beliau memiliki pengetahuan agama yang
dalam, karena sejak kecil dididik oleh orangtuanya dalam masalah keagamaan.
Beliau disifatkan sering bergaul dengan para ulama seperti, Haji Makkatu,
seorang ulama yang sangat tegas dalam memberantas segala kemungkaran dan
merintis pengajian yang bersifat kalsikal di Tosora, juga beliau dekat dengan
Haji Muhammad As’ad, seorang Ulama Bugis yang lahir di Makkah, ke Wajo pada tahun
1928, sangat berjasa dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan
dengan mencetak para ulama berkaliber nasional dan internasional.
Anre Gurutta (AG) Haji Muhammad As’ad memulai pendidikan
dengan memberikan pengajian rutin di rumahnya atau di masjid dengan sistem
halakah. Materi utamanya dititik-beratkan pada akidah dan hukum syariah.
Semakin lama berjalan, pengajiannya semakin terkenal dan didatangi para santri
yang dari perbagi penjuru sehingga sistem halakah (mangaji tudang) tidak cocok
lagi. Bulan Mei 1930 beliau membuka sistem pendidikan formal dengan bentuk
madrasah atau sekolah formal klasikal di samping Masjid Jami’ Sengkang yang
diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI). Dua tahun kemudian dibangunlah
gedung sekolah secara permanen di samping masjid atas bantuan pemerintah
kerajaan Wajo bersama tokoh masyarakat. Beliau juga sebagai aktor dan pelopor
pemurnian ajaran Islam dan pembaruan sistem pendidikan Islam modern melaui
Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) yang berpusat di Sengkang. (Ilham Kadir,
Jejak Dakwah KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi,
2010).
Para alummni MAI Sengkang, bertebaran mendirikan lembaga
pendidikan Islam bercorak pesantren dengan sistem klasikal (modern) di berbagai
daerah. Seperti AG. H. Abdurrahman Ambo Dalle mendirikan MAI Mangkoso lalu
bersama AG. H. Daud Ismail dan AG. H. M. Pabbajah mendirikan Darul Da’wah wal
Irsyad (DDI). AG. H. Daud Ismail juga mendirikan Pesantren Yasrib di
Watangsoppeng. AG. H. Junaid Sulaiman mendirikan Pesantren Ma’had Hadits di
Watangpone, AG. H. Abd. Muin Yusuf mendirikan Pesantren Al Urwatul Wutsqa di
Benteng Rappang, dengan sistem pendidikan dan pemahaman yang secara umum hampir
sama karena berafiliasai pada mazhab syafi’i sebagaimana pemahaman Gurutta H.
M. As’ad sendiri, kecuali KH. Lanre Said yang Mendirikan Pondok Pesantren Darul
Huffadh di Tuju-tuju, Bone, dan KH. Marzuki Hasan pendiri Pondok Pesantren
Darul Istiqamah Maccopa-Maros dan Sinjai memiliki sistem dan pemahaman yang
berbeda karena tidak berpegang kepada salah satu mazhab.
Adapun AG. H. Hamzah Manguluang selain mendirikan pesantren
Babul Khaer di Bulukumba, beliau juga menjadi penulis produktif, di antara
tulisannya yang sangat spektakuler adalah tafsir al-Qur’an 30 Juz lengkap
dengan menggunakan bahasa Bugis, dan inilah salah satu tafsir berbahasa daerah
terlengkap pertama kali di nusantara.Demikian pula di Kerajaan Bone, berkat
bantuan Andi Mappanyukki alias Petta Mangkau Bone, pada tahun 1929 didirikan
sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Amirah di Watampone. Pimpinannya
ialah Abdul Aziz Asy-Syimie berasal dari Mesir, tahun 1935 pimpinan madrasah
beralih ke tangan Ustaz Abdul Hamid al-Misyrie dan selanjutnya digantikan oleh
Ustadz Mahmud al-Jawad bekas Mufti Madinah al-Munawarah yang sebelumnya pernah
mengajar di Palopo. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1940 dibangunlah
asrama para pelajar sebagai tempat tinggal dan gedung belajar yang
teratur. Para pengasuh madrasah ini
adalah para Ulama dari Bone sendiri yang pernah mukim dan belajar di Makkah dan
Mesir.
Selanjutnya pada tahun 1932 atas inisiatif Raja Bone Andi
Mappanyukki diadakan “Pertemuan Ulama se-Celebes Selatan” di Watampone, ibukota
kerajaan Bone. Musyawarah tersebut dihadiri oleh 26 Ulama terkemuka dari
seluruh penjuru Sulawesi Selatan termasuk Gurutta H. M. As’ad, di antara isi
pertemuan tersebut adalah membicarakan cara-cara pengelolaan pendidikan Islam
yang sesuai dengan tuntutan zaman bagi generasi pelanjut.Bukti-bukti ini
menunjukkan, bahwa pendidikan Islam sudah lahir sebelum keberadaan Taman Siswa
yang didirikan Ki Hadjar Dewantoro. Bahkan berdirinya lembaga-lembaga
pendidikan Islam tak terkait dan terpengaruh adanya Taman Siswa. Wallahu a’lam! /*
Kamis, 04 Juni 2015
Pada awal abad ke-20, madrasah-madrasah dengan sistem berkelas (klasikal) mulai muncul di Indonesia
Adabiyah School bermula dari Madrasah Adabiah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909
SETIAP tanggal 02 Mei, Bangsa Indonesia memeringati hari
Pendidikan Nasional dengan bertitik-tolak dari tahun 1921, ketika Ki Hadjar
Dewantoro mendirikan lembaga Taman Siswa.
Ki Hadjar pernah terjun di Politik sampai berhasil menduduki
pucuk Pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI), dan mengantarkan dirinya
menduduki Menteri Pengajaran pada Kabinet Pertama Indonesia awal kemerdekaan.Sejatinya
jauh sebelum Ki Hadjar Dewantoro terjun dibidang pendidikan dan mendirikan
lembaga Taman Siswa, sudah tersebar di nusantara lembaga-lembaga Pendidikan
Islam.Pada awal abad ke-20, madrasah-madrasah dengan sistem berkelas (klasikal)
mulai muncul di Indonesia. Menurut penelitian Mahmud Yunus, pendidikan Islam
pertama kali memiliki kelas dan memakai bangku, meja, dan papan tulis adalah
Madrasah Adabiyah (Adabiyah School) di Padang.
Madrasah Adabiyah adalah madrasah pertama di Miangkabau,
bahkan di Indonesia, didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1909.
Madrasah ini hidup sampai tahun 1914, kemudian diubah menjadi HIS Adabiyah pada
tahun 1915, yang merupakan HIS pertama di Miangkabau yang memasukkan pelajaran
agama Islam dalam pengajarannya. (baca Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam
di Indonesia, t.th.)Muculnya sekolah-sekolah Islam yang besepadu dengan sistem
pendidikan modern juga tak terlepas dari banyaknya alumni Universitas Al-Azhar
Mesir yang telah menyelesaikan pendidikannya di sana. Mereka adalah hasil dari
sistem pendidikan yang telah direformasi oleh Muhammad Abduh.Setibanya di
Indonesia, mereka mengelolah dan mengajar di sekolah-sekolah agama serta
memasukkan mata pelajaran umum. Lembaga pendidikan yang demikian dinamai
Madrasah Guru Islam atau Sekolah Menengah Islam (SMI).
Di antara madrasah yang juga termasuk awal adalah Al-Jami’ah
Islamiyah, di Sungayang Batusangkar, didirikan oleh Mahmud Yunus pada 20 Maret
1931; Normal Islam (Kuliah Mu’allim Islamiah), didirikan oleh Persatuan
Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Padang pada tanggal 1 April 931 dan dipimpin
oleh Mahmud Yunus, dengan demikian Mahmud Yunus memimpin dua madrasah tingkat
menengah dan tinggi di atas.Ada pula
Islamic College, didirikan oleh Persatuan Muslim Indonesia (Permi) di
Padang pada tanggal 1 Mei 1931, dipimpin oleh Mr. Abdul Hakim.
Kemudian digantikan oleh Mukhtar Yahya tahun 1935.Selanjutnya
berdirilah beberapa madrasah yang memasukkan pengetahuan umum dalam rencana
pendidikannya, di antaranya, Training College didirikan oleh Nasruddin Thaha di
Payakumbuh tahun 1934; Kulliah Muballghin/Muballighat, didirikan oleh
Muhammadiyah di Padang Panjang; Kulliah Muallimat Islamiah, didirikan oleh Rgk.
Rahmah Al-Yunusiah di Padang Pada tanggal 1 Februari 1937; Kulliah Dianah,
didirikan oleh Syakh Ibrahim Musa di Parabek pada tahun 1940 dan dipimpin oleh
H. Bustami A. Gani; Kulliatul Ulum, didirikan oleh Thawalib Padang Panjang dan
dipimpin oleh Engku Mudo Abdul hakim; Kulliah Syariah, didirikan oleh Tarbiyah
Islamiah di Padang Panjang; Nasional Islamic College, didirikan oleh alumni
Islamic College di Padang; Modern Islamic College didirikan oleh St. Sulaiman
dan kawan-kawan di Bukitinggi.
Di Sulawesi Selatan, secara umum para raja-raja memberi
keleluasaan kepada para dai dan ulama sekalihus pendidik untuk mengembangkan
syiar agama Islam dan pendidikan.Raja Gowa yang bergelar Imangimangi Daeng
Matuju Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin (1936 – 1946) sudah
menggagas pembukaan Madrasah Islamiyah, bertempat di Jongaya, Gowa. Pengajaran
agama Islam yang diberikan berdasarkan Mazhab Syafi’i. Pimpinan Madrasah
dipegang oleh Asy Syekh Abdullah bin Shadaqah Dahlan, penganjur Mazhab Imam
Syafi’i yang taat.
Madrasah ini dubuka, setelah beberapa bulan Sultan Muhammad
Tahir naik tahta di Gowa pada tahun 1936. Para murid-murid madrasah ini berasal
dari daerah Takalar, Jeneponto, dan Gowa sendiri. Ketika pecah perang dunia ke
II madrasah ini terpaksa ditutup, perang memang selalu membawa petaka!Sebelum
itu, di daerah Campalagian Mandar, menurut catatan, pendidikan dengan sistem
tradisional telah bermula dari tahun 1913 dibawah asuhan H. Maddeppungeng yang
pernah berguru di Makkah Saudi Arabia. Tempat ini menjadi pencetak kader-kader
muballigh Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke XX. Tempat pendidikan ini
tidak membatasi usia para pelajarnya. (Sarita Pawiloy, Sejarah Perjuangan
Angkatan 45 di Sulawesi Selatan, 1986).
Di kerajaan Wajo ketika diperintah oleh La Mannang
Toapamadeng Puangna Raden Galla, Arung Matoa ke-40 yang berkuasa pada tahun
1821-1825, beliau melakukan berbagai usaha dalam bidang pendidikan dan agama,
seperti: memperluas dan menyempurnakan Masjid Jami’ Tosora; mendatangkan ulama
dari Madinah, (biasa disebut oleh orang Wajo dengan Syeikh Madinah);
mengeluarkan perintah pada raja-raja bawahannya agar masjid yang ada dipelihara
dan diperbaiki, dan yang belum memiliki masjid agar segera membangun supaya
rakyat dapat shalat secara berjamaah; pohon-pohon yang dikeramatkan agar
ditebang; perempuan yang keluar rumah agar menggunakan tutup kepala dan kain
sarung (baca: krudung); dan dari segi pelaksanaan hukum, pemerintah memotong
tangan bagi pencuri atas anjuran Syekh Madinah.
