Lembaga Amil Zakat Nasional

Selama 20 tahun dipercaya mengelola dana ZAKAT, INFAK, SEDEKAH dari para dermawan untukk kebaikan Ummat

Daftar Jadi Donatur Daftar jadi Relawan

Our Services

Program Dakwah

Ujung tombak para penyeru kebaikan di daerah pelosok, terdalam dan terluar di seluruh NUSANTARA perlu kita dukung dengan program berbagi kebaikan

Read More

Program Pendidikan

Pendidikan menjadi pilar pembangunan Nasional untuk Indonesia lebih baik lagi. Layakkan pendidikan bagi anak generasi kita

Read More

Program Ekonomi

Ayo Bangkit dari keterpurukan perekonomian pasca pandemi dengan program kemanfaatan untuk pelaku usaha UMKM di Indonesia

Read More

Sosial Kemanusiaan

Bencana yang kerap melanda negeri kita menjadi moment terbaik kita untuk saling membantu dan meringankan beban penyitas bencana alam tersebut

Read More

Laporan Kegiatan kami

Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Manhaj Mencetak Pemimpin






Sebagai seorang yang beriman, tentu merindukan seorang pemimpin yang beriman. Pemimpin adalah bagian yang tak dapat dipisah – pisahkan dari  diri kita.
Karena, pemimpin yang akan mengarahkan, memandu, dan membimbing kita, pengaruhnya kita rasakan secara langsung dalam memberikan perubahan kehidupan keseharian kita. Sehingga, pemimpin tersebut tidak saja legal secara konstitusional, pula legitimate, dan dicintai rakyatnya.
Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami,  ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini (membenarkan) ayat-ayat Kami (QS. As Sajdah (32) : 24).
Dalam Al Quran, Allah SWT telah menjelaskan kepada kita karakteristik pemimpin yang ideal. Yaitu pemimpin yang adil, kasih sayang, dan mencintai kita. Pemimpin yang dapat diteladani keilmuannya, ketakwaannya, pengabdiannya (khidmahnya).
Pemimpin yang menomorsatukan kepentingan yang dipimpin, dan menomor duakan kepentingan diri, keluarga, dan golongannya. Karena, ia sudah menjadi milik umat.  Bukan saja milik keluarga dan kabilahnya.
Ketika Allah menjelaskan proses pengangkatan nabi Yusuf as sebagai bendahara Mesir, Allah menjelaskan bagaimana Qithfir Al ‘Aziz memuji Yusuf.
Raja berkata:
Bawalah Yusuf kepadaku. Aku akan jadikan dia penasihat khusus untuk diriku.  Maka tatkala raja itu berbicara kepada Yusuf, Raja berkata : Mulai hari ini engkau menjadi orang yang memiliki kedudukan lagi terpercaya di sisi kami. Yusuf berkata : Jadikanlah aku pengelola harta kekayaan negara. Sesungguhnya aku orang yang sangat pandai untuk mengelola, lagi sangat luas pengetahuanku (QS. Yusuf (12) : 54-55).
Merujuk ayat di atas, kita memahami empat kriteria yang sepatutnya melekat dalam struktur kepribadian seorang pemimpin. Dengan keempat karakter tersebut, Yusuf menjadi pemimpin yang ideal. Menggabungkan  mutu komitmen dan kompetensi.
Demikian pula karakter pemimpin para malaikat (Jibril) yang Allah amanahi menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, karakter Jibril yang dipuji oleh Allah dalam Al Quran.
Sesungguhnya Al Quran itu  benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril). Yang memiliki kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah, mempunyai ‘arsy yang ditaati disana di alam malaikat lagi amanah (dapat dipercaya). (QS. At Takwir (19) : 21).
Jibril memiliki karakter yang sempurna, sehingga Allah menunjuknya untuk mengemban tugas paling berat, mengantarkan wahyu kepada utusan Allah yang ada di muka bumi ini. Dan seperti itulah selayaknya pemimpin yang menjadi wakil bagi rakyatnya. Bukan DPR (Dewan Perwakilan Rupiah), tetapi DPR (Dewan Perwakilan Ruhiyah) bagi rakyatnya. Dia sosok yang terhormat, bukan manusia rendahan. Memiliki kemampuan dan profesionalitas. Dan amanah dalam mengemban tugas.
Tentu saja, untuk memiliki pemimpin  dengan karakter yang sangat ideal bukan pekerjaan instan. Melahirkan pemimpin terkait dengan amaliyyatud tadayyun (proses keberagamaan) kita. Dan, proses interaksi dengan agama kita sebanding dengan ‘amaliyyatut ta’allum (proses pembelajaran) yang berlangsung secara berkesinambungan.
Jadi, untuk menyiapkan pemimpin yang merupakan foto copy diri kita, tergantung kesiapan kita untuk diproses, ditarbiyah, ditakwin, menuju insan yang shalih bagi setiap tempat dan masa sesuai dengan karakteristik dinul Islam itu sendiri.
Kelahiran seorang pemimpin terkait langsung dengan kualitas keberagamaan kita. Jika kita adalah sosok minal muttaqin, minal mukminin, minal mujahidin, minal muqarrabin, minash shalihin, minal muhsinin, maka seperti itulah pemimpin yang akan kita lahirkan.
Sebaliknya, jika kita tidak memiliki keterikatan yang kuat (komitmen) terhadap nilai-nilai manhaj(wahyu), kita jangan kaget jika Allah SWT mengirimkan pemimpin yang fasiq, diktator, di tengah-tengah komunitas kita.
Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan (QS. Al An’am (6) : 129).
Kita meyakini, tidak ada kejadian yang kecil dan besar, diam dan gerak, muncul dan tenggelam, maju dan mundur, naik dan turun, termasuk pengangkatan seorang pemimpin, kecuali dalam pengaturan, izin, dan restu Allah SWT. Tidak semata-mata peristiwa alam (thabii, natural).
Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki di tangan Engkaulah segala kebaikan (QS. Ali Imran (3) : 26).
Surat Al Anam ayat 129 di atas kita bisa memperoleh pelajaran fundamental bahwa diantara hukuman Allah kepada orang yang zhalim (menganiaya diri sendiri) adalah Allah menunjuk orang zhalim lain yang menguasainya. Si zalim pertama akan mendapatkan kezhaliman dari sosok zalim kedua.
Ketika kita ikhlas, sabar dalam mentarbiyah, mentazkiyah diri, keluarga, masyarakat, dengan amar bil ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar, maka Allah akan mengirimkan pemimpin yang baik. Ketika masyarakat berbuat zalim, melakukan maksiat, menjauhi syariat, maka yang akan memimpin kita adalah orang yang menindas kita, sebagai hukuman atas perbuatan kita.
Selama ini, kita selalu menuntut agar pejabat, kalangan elitis (qiyadah), agar menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Kita sering mengangkat hadits: Jihad tertinggi adalah kalimat yang haq di sisi sulthan yang zalim (jair).
Tetapi, kita seringkali mengabaikan muhasabah, muraqabah, terhadap diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi sosok yang shalih, mukmin, mujahid? Jika kita belum menjadi alat peraga Al Quran yang berjalan di medan kehidupan, mengapa kita menuntut kelahiran pemimpin yang Qur’ani?.
Kita harus berpikir realistis, bahwa pemimpin yang hadir di tengah-tengah kita adalah lukisan dari kepribadian kita. Janganlah kita seperti kaum Khawarij yang selalu menuntut dan mengkritik Ali bin Abi Thalib. Mengapa pemerintahan kalian tidak seperti pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khathab ?.
Ali bin Abi Thalib menjawab:
Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar, yang menjadi rakyat adalah aku, dan orang-orang yang sepadan denganku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu (Syarh Riyadhush Shalihin, Ibnu Utsaimin).
Para ulama mengatakan :
اعمالكم اعمالكم كما تكونوا يولي عليكم
Amal perbuatan kalian sejenis dengan pemimpin kalian. Sebagaimana karakter kalian, seperti itulah model kepemimpinan yang akan mengendalikan kalian.
Ibnul Qayyim Al Jauziyah pernah menjelaskan pentingnya memperbaiki diri, jika kita berharap memiliki pemimpin yang baik.
وتأمل حكمته تعالى فى أن جعل ملوك العباد
وأمراءهم ووﻻتهم من جنس أعمالهم ظهرت
فى صوروﻻتهم وملوكهم فان استقاموا استقامت
ملوكهم وان عدلوا عدلت عليهم وان جاروا جارت ملوكهم
Renungkanlah hikmah Allah. Dia jadikan pemimpin bagi para hamba-Nya, sejenis dengan amal dan prilaku hamba-Nya. Bahkan seolah-olah amal mereka berwujud seperti pemimpin mereka. Mereka istiqomah dalam kebaikan, pemimpin mereka akan istiqomah.
Sebaliknya, ketika mereka menyimpang, maka pemimpin mereka pun menyimpang. Ketika mereka berbuat zalim, pemimpin mereka juga akan berbuat zalim (Miftah Darus Sa’adah hal. 253).
Ada seorang ulama mantan pemimpin para begal, Fudhail bin ‘Iyadh, beliau memberikan contoh kepada kita tentang pentingnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin.
Kata Fuadhil: Seandainya saya memiliki satu doa yang mustajabah, maka saya tidak akan menggunakannya kecuali untuk kebaikan pemimpin. */Ali Mu'afi


USTADZ SHOLIH HASYIM

·         penulis adalah anggota Dewan Syura Hidayatullah

Kamis, 02 April 2015

Bersama Syabab Hidayatullah, BMH Gelar Latian Dasar Kepemimpinan





Maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja sungguh tak bisa di pandang sebelah mata. Apalagi angka kenakalan kejahatan yang dilakukan atau dialami oleh remaja, terus meningkat. Padahal remaja sejatinya adalah aset bangsa. Bagaimana wajah bangsa dan agama ini ke depan, remaja jawabanya.

Atas dasar itulah, Baitul Maal Hidayatullah bersama Pengurus Pusat Syabab Hidayatullah DKI bersinergi turut serta mensolusikan masalah tersebut dengan mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan yang diikuti oleh gabungan Santri Hidayatullah Se-Bogor dan Depok (27-29/3).
Lailman, selaku Ketua Bidang Kaderisasi PP Syabab Hidayatullah mengatakan bahwa LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) tersebut sangat dibutuhkan para remaja untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka sebagai generasi Muslim.
“LDK ini sebenarnya kebutuhan jiwa para generasi Muslim agar mereka mengenal ajaran Islam dengan baik dan muncul kepercayaan diri tinggi, sehingga mereka mau bertanggung jawab terhadap sikap dan pilihan hidupnya ke depan,” ujarnya.
Harapannya dengan Latihan Dasar Kepemimpinan tersebut, para santri yang notabene masih remaja, memiliki rasa tanggung jawab baik terhadap diri, agama, bangsa dan negara. “Dengan begitu mereka akan terbiasa berlatih melakukan inisiatif dalam mengisi hari-harinya,” imbuhnya.
Sementara itu, Imam Nawawi selaku Kepala Humas BMH Pusat menyatakan bahwa acara semacam ini merupakan salah satu bagian dari program inti Baitul Maal Hidayatullah demi tersedianya Sumber Daya Insani yang unggul secara keseluruhan.
“Terhadap program semacam ini, BMH senantiasa berupaya untuk mensupport secara penuh, karena salah satu fokus BMH dalam programnya adalah mencerdaskan generasi bangsa, yang mana merekalah kelak yang akan melanjutkan tegaknya dakwah dan pendidikan di bumi Nusantara ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua penyelenggara, Mazlis Mustofa mengatakan bahwa setelah di Bogor, ke depan LDK serupa akan dilaksanakan di Jakarta dan daerah. “Usai LDK di sini, kami berencana untuk bisa melaksanakannya juga di Jakarta dan daerah-daerah di Indonesia, sehingga bisa makin luas jangkauannya. Karena memang tidak sedikit remaja kita yang perlu ikut kegiatan semacam ini,” paparnya.*/Ali muafi


Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Kontak Kami

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah BMH tetap berkhidmat bersama Ummat - WA 0851.0471.7000

Alamat:

Jalan Sidomakmur 15 Sengkaling Dau Malang

Jam Kerja:

Senin sampai Jumat pUkul 08.00 hingga 16.30

Phone:

0851.0471.7000

Recent Comments

Recent Posts