Lembaga Amil Zakat Nasional

Selama 20 tahun dipercaya mengelola dana ZAKAT, INFAK, SEDEKAH dari para dermawan untukk kebaikan Ummat

Daftar Jadi Donatur Daftar jadi Relawan

Our Services

Program Dakwah

Ujung tombak para penyeru kebaikan di daerah pelosok, terdalam dan terluar di seluruh NUSANTARA perlu kita dukung dengan program berbagi kebaikan

Read More

Program Pendidikan

Pendidikan menjadi pilar pembangunan Nasional untuk Indonesia lebih baik lagi. Layakkan pendidikan bagi anak generasi kita

Read More

Program Ekonomi

Ayo Bangkit dari keterpurukan perekonomian pasca pandemi dengan program kemanfaatan untuk pelaku usaha UMKM di Indonesia

Read More

Sosial Kemanusiaan

Bencana yang kerap melanda negeri kita menjadi moment terbaik kita untuk saling membantu dan meringankan beban penyitas bencana alam tersebut

Read More

Laporan Kegiatan kami

Sabtu, 11 April 2015

Mengenal Sosok Ustadz Abdullah Said





Abdullah Said adalah pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan yang kemudian menjadi organisasi massa Islam Nasional bernama Hidayatullah. Abdullah Said lahir di sebuah Desa yang bernama Lamatti Rilau, salah satu desa di wilayah Kecamatan Sinjai Utara,Kabupaten Sinjai , Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Yaitu pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945,dengan nama lahir Muhsin Kahar.
Sejak masih dalam kandungan Abdullah Said sudah jadi perbincangan keluarga dan masyarakat di kampungnya, sebab usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun belum lahir juga. Bahkan ada pandangan miring bahwa yang dikandung itu bukan manusia tetapi buaya atau entah apa.
Untuk pendidikan dasar, selain bimbingan langsung dari ayahnya, KH Abdul Kahar Syuaib, Muhsin kecil sangat tertolong oleh Sekolah Rakyat (SR) yang ada dikampungnya. Namun karena harus mengikuti ayahnya pindah ke Makassar, ia harus rela meninggalkan kampung halaman tercinta dan meninggalkan pendidikannya yang saat itu telah duduk di kelas III, antara tahun 1952-1954.
Setelah di Makassar, Muhsin kecil diterima di kelas IV di Sekolah Dasar No. 30 di kota itu. Di Sekolah ini Muhsin kecil selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran, termasuk pelajaran menggambar. Bahkan Muhsin kecil pernah mengangkat nama sekolahnya ketika menjadi yang terbaik dalam pertandingan menggambar antar sekolah dasar se-Kota Besar Makassar.
Setelah lulus dengan nilai tertinggi, Muhsin Kahar melanjutkan pendidikannya ke sekolah agama, yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 Tahun), salah satu gurunya adalah KH.Djamaluddin Amien. Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping dapat mempelajari agama, juga merupakan sekolah yang sangat didambakan saat itu sebagai satu-satunya sekolah Pendidikan Guru Agama milik pemerintah yang ada di kawasan Indonesia Timur.
Lagi-lagi di PGAN 6 Tahun Muhsin kahar selalu menjadi bintang kelas, pandai berpidato dan berpengetahuan luas. Sejak masuk PGAN sampai kelas IV dia selalu ditunjuk sebagai ketua kelas, dalam setiap rapat dia selalu dipercayakan untuk memimpin.
Lulus sekolah lanjutan PGAN 6 Tahun dengan nilai tertinggi, Muhsin Kahar ditugskan untuk melanjutkan pendidikannya ke IAIN Alauddin, Makassar. Namun hanya setahun dia mengikuti kuliah lalu berhenti. Dia telah membaca semua materi kuliah yang diberikan dosen. Hingga akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah, cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya sangat tidak seimbang dengan yang telah dikorbankan.
Kalau hanya untuk mendapatkan titel sarjana, bukan itu yang diperlukan. Namun yang dia butuhkan adalah bagaimana bisa mengaplikasikan ilmunya secara menyeluruh kapanpun dan dimanapun dia berada.

Pemikiran   
Pemikiran Abdullah Said dapat ditelusuri dari karya tulis, ceramah, dan berbagai aktivitas dia. Namun, jika melihat pada catatan-catatan dia, memang tidak dijumpai tulisan yang secara khusus membahas pandangan atau pemikiran dia, ini dapat dimaklumi sebab dia memang manusia kerja, “Man of Action” seperti yang dikatakan Amien Rais (Mantan MPR-RI, mantan ketua Umum Muhammadiyah), ketika dimintai komentarnya terhadap pribadi Abdullah Said. Dari berbagai cacatan, ceramah dan gerakan serta aktivitas da’wahnya, dapat diidentifikasi beberapa gagasan sebagai pemikiran da’wah Abdullah Said sebagai berikut:
Bidang Da'wah
Bagi Abdullah Said da’wah adalah prioritas utama, tekad dia adalah dimanapun dia berada nantinya, umurnya akan dihabiskan untuk mengurus Islam. Dia pernah mengatakan tentang kerja da’wah ini bahwa: “Da’wah bukanlah pekerjaan ringan, karenanya Allah tidak menitip amanah ini kepada sembarang orang. Setetes hidayah dari Allah, jauh lebih berarti dari berjilid-jilid buku yang ditulis oleh seorang penulis paling terkenal sekalipun.”
Pengkaderan
Tingginya perhatian dia terhadap pengkaderan ini sehingga dia terus berpikir untuk mencari metode pengkaderan yang dapat melahirkan kader-kader yang tangguh. Maka dari kajian dan diskusi yang dia lakukan, lahirlah sebuah metode yang digunakan dalam mendidik kader yang disebut “Sistematika Nuzulul Wahyu”.
Terkait dengan pembinaan kader ini, Abdullah Said menyatakan bahwa: kaderisasi adalah permasalahan serius yang dihadapi oleh hampir setiap organisasi. Sehingga sering dikatakan, “sekarang kita sedang mengalami krisis kader”.
Abdullah Said berpandangan bahwa kader menjadi dewasa bukan karena kemanjaan tapi karena keprihatinan. Dari hidup yang prihatin terasah perasaannya, tajam intuisinya, peka jiwanya, tanggap nuraninya. Pikirannya terlatih, keterampilannya terbina, pelan-pelan jiwa kepemimpinannya terbangun.
Sosok Da'i
Hal yang tak kalah penting dan selalu ditekankan oleh Abdullah said adalah bahwa letak keberhasilan ceramah atau da’wah bukan hanya ditentukan semata karena kemahiran beretorika. Perhatian pendengar dan audiens sangat ditentukan oleh perilaku dan akhlak da’i. orang memperhatikan budi pekerti dan tingkah laku sehari-hari. Dia pernah mengatakan: ”Da’wah yang lebih didengar adalah da’wah yang didukung oleh pembuktian ayat, berupa peragaan dan praktik di lapangan pada diri dan keluarga.”
Hal lain yang selalu ditekankan oleh Abdullah Said kepada para da’i Hidayatullah adalah agar tidak meninggalkan shalat lail demi suksesnya da’wah. Menurut dia seorang da’i adalah pejuang Islam yang memikul beban yang sangat berat sehingga seharusnya dia senantiasa dekat dengan Allah SWT yang akan memberikan keringanan dan kemudahan dalam menjalankan misi da’wahnya. Dia mengatakan: “Bagi mereka yang pernah melakukan shalat lail tentu merasakan dan mengakui adanya pertarungan yang sangat seru dan sengit dalam menghadapi godaan syetan dan pengaruh nafsu yang luar biasa kuatnya.”
Metode Da’wah
Mengenai manhaj dan metode da’wah ini Abdullah Said mengatakan bahwa: “Karena ketidak jelasan manhaj, kadang-kadang da’wah Islam tidak lebih sekedar hura-hura”
Dengan menapak tilas perjalanan Rasulullah, Abdullah Said berusaha keras memetik hikmah dari kondisi yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu hingga turunnya 5 surat pertama sebagai bahan pembinaan. Menurut pendapatnya, Allah SWT yang merekayasa kondisi Nabi Muhammad demikian itu tentu punya target. Setelah melalui pengkajian yang intens Abdullah Said akhirnya merumuskan suatu metode pembinaan berdasarkan tertib turunnya lima surat pertama, yang kemudian dikenal dengan Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu. Yang selanjutnya metode ini dijadikan sebagai manhaj da’wah Hidayatullah.
Pendidikan
Secara akademik Abdullah Said bukanlah siapa-siapa. Dia bukan guru besar juga bukan penulis kritis terhadap sistem yang ada. Namun bagi seorang ilmuwan sejati, kiprah dia lebih dari sekedar upaya fisik, tapi implementasi ide dan gagasan yang holistik dan realistis. Pasalnya peninggalannya berupa Pesantren Hidayatullah, di dalamnya terkandung warisan konsep pendidikan yang sangat dibutuhkan umat di masa ini dan masa yang akan datang.
Abdullah Said bukanlah seorang kritikus tapi problem solver. Dia tidak ingin hidupnya tersita untuk mengkonsep pemikiran kritis sementara dalam alam realita tidak terwujud satu karya apapun. Dia memandang pendidikan sebagai amanah keimanan yang harus mengantarkan manusia pada derajat ketaqwaan.
Dia kurang setuju dengan pendidikan yang berorientasi pada predikat kesarjanaan, yang dia inginkan adalah Pendidikan yang berorientasi pada kekaderan yang kehadirannya ditengah masyarakat benar-benar langsung dirasakan manfaatnya, sehingga orientasi dia adalah mendidik santrinya untuk siap pakai.
Pendidikan yang sempat ada dimasa dia adalah Pendidikan Dasar Islam (PDI), setingkat SD, pendidikan Ulama dan Zuama (PUZ), setingkat SMP, dan Kuliah Muballighin dan Muballighat (KMM), setingkat SMA. Pada kesemua jenjang pendidikan tersebut dia lebih menekankan praktek langsung daripada berkutat dengan teori di dalam ruang kelas belajar, sehingga menghasilkan kader-kader yang siap diterjun bebaskan kemana saja dan kapan saja.
Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, obsesi Ustadz Abdullah Said adalah membangkitkan perekonomian golongan ekonomi lemah, dengan mencarikan dan memberikan pinjaman kepada para pedagang kaki lima dan santri-santri yang mempunyai kecendrungan untuk berdagang. Demikian pula pada sektor angkutan umum, dia membeli beberapa buah mobil angkutan kota sebagai pengawal, diharapkan kedepan armada angkutan kota terus bertambah dibawah koordinasi Hidayatullah.
Dia juga berkeinginan membuat super market yang menyediakan segala macam kebutuhan, dalam guyonannya dia mengatakan, “dari terasi hingga helikopter tersedia”, dengan sistem pesan-antar, pesan di malam hari- pagi harinya diantarkan oleh petugas. Hal ini tidak hanya saling menguntungkan, namun juga sebagai sebuah cara untuk menertibkan hukum sehingga kaum wanita tidak perlu jauh-jauh keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Disamping itu dia juga menginginkan agar memproduksi sendiri bahan-bahan makanan dengan tujuan menyediakan lapangan kerja dan untuk menghilangkan keragu-raguan terhadap produk-produk makanan yang ada.
Dalam sebuah kesempatan kuliah malam jum’at, 25 maret 1990 dia menyampaikan bahwa, “kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana meng-Islamkan peradaban sekarang”.
Politik
Kendati Hidayatullah tidak berorientasi kepada politik, tetapi Ustadz Adullah Said tidak mau ketinggalan mengikuti perkembangan politik. Namun dalam pandangan dia, jika suatu saat tiba-tiba pemerintah (yang saat itu berada dibawah kekuasaan partai Golkar) merubah undang-undang keormasan dan memberikan kesempatan untuk menambah jumlah partai politik, maka Hidayatullah lah yang paling siap berpartisipasi dengan mengandalkan cabang-cabang yang ada diseluruh Indonesia yang siap menyala jika Gunung tembak sebagai generator telah dihidupkan.
Dia menginginkan para pemuda masuk barisan partai oposisi karena jika ditangkap masih bisa bertahan hidup dipenjara, sedangkan kaum tua disuruh masuk golkar agar mendapat jaminan. Dia menginginkan Hidayatullah menguasai kursi pada tiga partai saat itu (Golkar, PPP, dan PDI), sehingga keputusan yang dikeluarkan didominasi oleh Hidayatullah. Abdullah Said meninggal dunia di Jakarta pada 4 Maret 1998 setelah beberapa waktu menjalani pengobatan atas penyakit yang dideritanya.*/Ali Mu’afi

Jumat, 10 April 2015

Hidayatullah Bangun Kupang dengan Dakwah dalam Kebersamaan




Hidayatullah.or.id- Dengan mengangkat tema,”Merajut Ukhuwah dengan Berbagi Sesama” yang bertempat di Masjid Nurul Hidayah, Kelapa Lima Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Hidayatullah Kupang mengadakan kegiatan tabligh akbar dan tebar sembako serta pembagian wakaf al Qur’an, baru baru ini (2/03/2015) lalu.

Hadir di tempat acara antara lain Ketua MUI Kota Kupang, Pimpinan Wilayah Hidayatullah NTT, Ketua Pimpinan Daerah Hidayatullah Kota Kupang, Ketua Yayasan Amanah Hidayatullah, Imam Masjid Kota Kupang, dan kaum duafa binaan Laznas BMH sebagai sponsor utama.
Hadir pula membuka kegiatan Rakerda Hidayatullah Kupang yakni Syafruddin Atasoge yang merupakan senator DPD RI Perwakilan NTT periode 2014-2019 dan sebagai penceramah yang juga dai kondang alumni Madinah, Syaifullah Zain, Lc.
Dalam sambutannya Usman Mamang Ketua PW Hidayatullah NTT menyampaikan kerjasama dan menjalin ukhuwah Islamiyah sekecil apapun itu, Insya Allah bisa terwujud.
Usman mengatakan, Hidayatullah siap dan selalu berkomitmen terbuka bekerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah, MUI, ormas Islam, swasta, kaum muslimin, dan masyarakat pada umumnya untuk mewujudkan kemaslahatan umat di wilayah ini.
“Alhamdulillah, kami terus selalu mendukung agenda pembangunan di wilayah ini. Sebagai ormas Islam yang berkecimpung secara luas dalam lingkup kehidupan masyarakat, tentu kami sangat terbuka untuk suksesi pembangunan khususnya di bidang pemberdayaan sumber daya manusia,” ungkap Usman Mamang,
Hal senada juga disampaikan Ketua MUI Kota Kupang Drs. H. Zainudin Sangaji. Beliau menuturkan, kita semua tidak bisa bekerja sendiri sehingga mesti ada sinergi diantara ormas Islam dengan organisasi MUI sehingga terbangun komunikasi yang baik.
Dalam sambutan yang singkat ini MUI mengingatkan, program sehebat apapun itu tapi tidak disandarka kepada Allah SWT maka nilainya akan hilang atau bisa jadi tidak ada.
“Maka dari itu segala sesuatu mesti disandarkan pada yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT sehingga rencana dan program itu bisa direalisasikan,” ujarnya.
Dalam sambutannya anggota DPD RI Perwakilan NTT, Syafruddin Atasoge, M.Pd  mengajak hadirin untuk terus menjaga spirit silaturahmi seperti kegiatan semacam ini. Silaturamhi ini, kata Atasoge, penting karena akan terjalin ada kesepemahaman antara pemerintah dengan masyrakat, terjalin keharmonisan dan keakraban serta saling mengingatkan antar sesama.
Dia sempat bercerita, saat dirinya menjabat jadi anggota DPD banyak proposal yang masuk ingin membangun masjid. Namun persoalannya, lanjut dia, sekarang saat masjid dibangun umatnya tidak memakmurkan.
“Ini persoalan yang mesti kita pikirkan bersama. Saat masjid sudah ada Taman Pendidikan Al-Qur’an tidak jalan ini juga masalah sehingga perlu diselesaikan,” imbuhnya.
Syafruddin Atasoge mengingatkan, maka dari itu penting bagi jama’ah untuk memakmurkan Masjid. Selanjutnya dengan membaca basmalah yang diikuti oleh ratusan hadiri, beliau membuka secara resmi Rakerda Hidayatullah Kota Kupang ini.
Sementara itu, Syaifullh Zain, Lc, dalam ceramah singkatnya mengingatkn jamaah kaum muslimin untuk terus memakmurkan masjid dengan sholat berjamaah sebab dengan sholat itulah penentu amal setiap mukmin di akhirat kelak.
“Sebab, sholat berjamaah di Masjid itulah nikmat terbesar,” pesan alumni Universitas Islam Madinah, Saui Arabia ini.
Pada kesempatan tersebut Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan santunan sembako sebanyak 270 paket kepada masyarakat dhuafa. Penyaluran bantuan ini terlaksana berkat program infak kotak amal yang digulirkan BMH Kupang bertajuk “Seribu Perhari” yang diapresiasi dermawan di Kabupaten Kupang.
Ketua Panitia acara yang juga Kepala Cabang Laznas BMH Kupang, Rasman Takela, pada kesempatan tersebut menyampaikan ribuan terima kasih kepada donatur yang telah menyalurkan sebagian hartanya kepada BMH
Idris Ribero, muallaf asal Timor Leste salah satu peserta penerima sembako menyampaikan, turut bahagia dengan program ini. “Semoga kedepannya program semacam ini selalu digalakkan terkhusus kepada kami para muallaf binaan BMH di Dusun Boneana Kabupatan Kupang Barat,” harap Ribero.* /Ali Mu’afi

Kamis, 09 April 2015

Sejarah dan Perjalanan Hidayatullah





Hidayatullah awalnya sebuah pondok pesantren  yang berdiri di atas lahan wakaf seluas 120 hektar di Gunung Tembak, Balikpapan , Kalimantan Timur, Pondok Pesantren di dirikan oleh ustad Abdullah Said pada 7 Januari 1973.

Dalam perkembangannya, Ust Abdullah Said mengirimkan santri-santrinya untuk berdakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, khususnya daerah-daerah minoritas Muslim.
Di tempat tugas yang baru, para santri Hidayatullah tak sekadar berdakwah, tetapi juga membangun cabang pondok pesantren Hidayatullah.
Pada akhirnya, tersebarlah ke lebih dari 100 kabupaten di seluruh Indonesia dalam bentuk pondok pesantren tersebut. Fokus kegiatannya adalah sosial, pendidikan, dan dakwah.
Pada Musyawarah Nasional (Munas) Pertama Hidayatullah, 9–13 Juli 2000, di Balikpapan, Hidayatullah mengembangkan menejemennya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan dakwah dan perjuangan Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, ormas Islam Hidayatullah berubah menjadi Perkumpulan Hidayatullah. Keanggotaan, misi, visi, dan konsep dasar gerakan bersifat terbuka.
Sejalan dengan itu, kader-kader Hidayatullah yang sudah tersebar di seluruh penjuru tanah air mulai membentuk Pimpinan Cabang (PC), Pimpinan Daerah (PD) dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW). Hingga tahun 2013 ini, Hidayatullah sudah memiliki 33 DPW, 287 PD dan 70 PC. Jumlah DPC, PR dan PAR tidak dicantumkan karena pertumbuhannya yang terus berubah.
Sejak 1978 Hidayatullah melakukan pengiriman da’i ke seluruh Indonesia dan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) di Depok, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) di Surabaya dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISID) di Balikpapan sebagai lembaga pendidikan untuk pengkaderan da’i dengan memberlakukan beasiswa penuh (biaya pendidikan dan biaya hidup) bagi mahasiswa dengan pola ikatan dinas. Da’i ini kemudian mendapatkan tunjangan maksimal hingga 3 tahun atau sampai mereka mampu menjadi pelaku ekonomi di tempatnya berada.
Mulai tahun 1998 lembaga pendidikan kader da’i ini telah menghasilkan lulusan dan telah mengirimkan da’i ke berbagai daerah terutama Indonesia Bagian Timur dan Tengah. Setidaknya setiap tahun, Hidayatullah mengirimkan 150 da’i ke berbagai daerah di Indonesia dengan 50 di antaranya adalah lulusan strata satu dari lembaga pendidikan kader da’i.
Lembaga pendidikan Hidayatullah meliputi Taman Kanak-Kanak dan kelompok bermain pra sekolah, Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah di hampir semua Daerah, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah setidaknya ada di setiap Wilayah dan 3 perguruan tinggi di Surabaya, Balikpapan dan Depok.
Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) adalah institusi berupa pesantren bagi anak yatim piatu. Ada lebih dari 200 Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) dengan jumlah anak yatim piatu dan tidak mampu dimana setiap PPAS menampung sekitar 150 orang anak.
Pada tahun 2013, Hidayatullah mendapat tambahan sebuah perguruan tinggi STT STIKMA Internasional Malang, yang dinaungi dibawah PW Hidayatullah Jawa Timur. Berbeda dengan Perguruan Tinggi Hidayatullah lainnya yang umumnya mempelajari ilmu agama, STT STIKMA Internasional Malang adalah perguruan tinggi yang mempelajari bidang Teknologi Informasi, Multimedia, Arsitektur, dan Komputerisasi Akuntansi. STT STIKMA Internasional Malang bergabung setelah yayasan yang lama, meng-hibah-kan lembaga STT STIKMA Internasional kepada ormas Hidayatullah.
Sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, Hidayatullah menyatakan diri sebagai Gerakan Perjuangan Islam (Al-Harakah al-Jihadiyah al-Islamiyah) dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya. Keanggotaan Hidayatullah bersifat terbuka, dimana usahanya berfungsi sebagai basis pendidikan dan pengkaderan.
Metode (manhaj nubuwwah’) Hidayatullah yaitu berpegang pada al Qur’an dan as-Sunnah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hidayatullah berfokus pada pelurusan masalah aqidah, imamah dan jamaah (tajdid); pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah); pembersihan jiwa(tazkiyatun-nufus); pengajaran dan pendidikan (ta’limatul-kitab wal-hikmah) dengan tujuan akhir melahirkan kepemimpinan dan ummat.
Pesantren Hidayatullah
Pesantren-Pesantren Hidayatullah berfungsi sebagai tempat untuk mendalami ilmu. Pesantren ini dihuni santri yang tinggal di asrama, guru, pengasuh, pengelola dan jamaah Hidayatullah.
Pola pengajaran di Pesantren Hidayatullah adalah sistem pesantren modern, yaitu penggabungan mata ajaran umum Kemendikbud dan mata ajaran khusus atau keislaman (diniyah). Mata ajaran umum sama seperti mata ajaran pada sekolah – sekolah umum lainnya, contohnya matematika, fisika, kimia dan lain lain. Mata ajaran khusus yaitu mata ajaran yang berkaitan dengan keislaman, contohnya aqidah, fiqih, bahasa Arab, dan hafalan/tahfidz Al Qur’an, serta masih banyak lagi mata ajaran yang lain, sesuai dengan jenjang pendidikan dan letak kampus.*/Ali Mu’afi

.


Eksis 20 Tahun , Hidayatullah.com Jauh dari Radikal


Tampak pimred Hidayatullah.com, Mahladi (berjaket hitam) bersama Pimpinan situs Islam lainnya saat melakukan klarifikasi ke menkominfo




Hidayatullah.or.id – Menjadi salah satu situs yang diblokir oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuat pengelola Hidayatullah.com keheranan karena mereka sudah beroperasi sejak dua dekade lalu.

“Pemerintah sudah cooling down, dan akan memverifikasi lagi mana saja yang benar-benar termasuk situs radikal. Saya yakin (Hidayatullah.com) tidak termasuk situs radikal yang dimaksudkan,” kata Ketua Bidang Pelayanan Umat PP Hidayatullah, Tasyrif Amin, seperti dikutip lamanRepublika, Rabu (1/4).
Taysrif menyebut, setelah mediasi dengan Kemenkominfo, pemerintah sudah membuka peluang untuk melihat kembali aspek-aspek yang akan diperhatikan sebelum melakukan pemblokiran.
Apalagi, ujarnya, media yang dirilis Hidayatullah Grup ini sudah ada sejak 20 tahun silam. Selama itu pula, situs Hidayatullah tidak pernah mengubah konten pemberitaan mereka kepada hal-hal yang berbau radikal atau konten yang mengancam keamanan negara.
“Pemblokiran itu terlalu terburu-buru. Seharusnya, pemerintah harus memperhatikan data yang valid sebelum positif untuk melakukan pemblokiran,” cetus Tasyrif.
Dari 22 situs website Islam yang diblokir oleh pemerintah tersebut, Tasyrif menduga, mungkin ada yang positif berisi konten radikal. Akan tetapi, pemerintah seharusnya tidak serta merta menyamaratakan semua situs Islam adalah radikal.
“Ada jutaan pembaca dari situs-situs yang ditutup ini. Kan umat yang dirugikan kalau informasinya terputus. Bagaimana hak mereka mendapatkan pencerahan dan penyiaran Islam secara baik,” ujar Tasyrif. */Ali Mu'afi


Rabu, 08 April 2015

Bersama Mushida, BMH Gelar Upgrading Daiyah Nusantara




Tantangan dakwah sungguh sangat kompleks dan meliputi semua sisi kehidupan, tidak terkecuali kaum hawa. Masih banyaknya kaum hawa di negeri ini yang belum tersentuh dakwah secara optimal membutuhkan insan-insan tangguh yang terpanggil hatinya menekuni dakwah demi tercerahkannya kaum Muslimah di negeri ini.

Menyadari hal tersebut, BMH bersama Muslimat Hidayatullah (Mushida) bersinergis menyelenggarakan Upgrading Daiyah Nusantara yang dilaksanakan di Pesantren Hidayatullah Depok, 2-5 April 2015. Sejumlah 100 daiyah dari berbagai penjuru negeri hadir mengikuti kegiatan tersebut.

Reni Susilowati, MPd.I selaku Ketua Umum Mushida mengatakan bahwa upgrading tersebut dimaksudkan untuk memberikan wawasan keilmuan, dorongan dan skill dakwah yang diperlukan kaum hawa, terutama di daerah terpencil dan pedalaman.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar para daiyah lebih mantab secara keilmuan, bertambah juga tsaqafah Islamiyahnya, kemudian juga semakin semangat dalam dakwah dengan skill dakwah yang dipraktikan selama kegiatan berlangsung,” urainya.

Sementara itu, Dewi Maslikha daiyah asal Kediri Jawa Timur yang bertugas di Kupang Nusa Tenggara Timur mengatakan bahwa upgrading tersebut memberikan wawasan keilmuan yang banyak sekaligus memotivasi dirinya untuk lebih semangat dalam berdakwah.

“Acara ini benar-benar manfaat, kalau bisa diibaratkan ya seperti dapat tranfusi darah baru begitu, sehingga benar-benar memicu dan memacu spirit saya dan peserta lainnya dalam menjalankan amanah dakwah,” tuturnya antusias.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Humas BMH Pusat Imam Nawawi mengatakan bahwa sinergis BMH bersama Mushida telah berlangsung lama dan senantiasa fokus untuk meningkatkan mutu daiyah yang dibinia bersama guna terwujudnya nuansa dakwah yang persuasif dengan spirit kaffatan linnas dan rahmatan lil’alamin.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kesekian dari sinergis BMH dengan Mushida yang telah berlangsung sekian lama. Harapannya satu bahwa daiyah semakin cerdas, adaptif, dan santun dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Jangan sampai radikal dan senantiasa mengutamakan spirit kaffatan linnas dan rahmatan lil’alamin,” paparnya.*/Ali Mu'afi


Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Kontak Kami

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah BMH tetap berkhidmat bersama Ummat - WA 0851.0471.7000

Alamat:

Jalan Sidomakmur 15 Sengkaling Dau Malang

Jam Kerja:

Senin sampai Jumat pUkul 08.00 hingga 16.30

Phone:

0851.0471.7000

Recent Comments

Recent Posts