Berbagi Kebaikan untuk Sesama | WA. 085.104.717.000 | donasi via BCA 315.33.000.00
Selasa, 24 Maret 2015
Hidayatullah.or.id – Dalam rangka meningkatkan
profesionalisme dan kompetensi para dai dalam melakukan pengabdian dakwah dan
pencerahan di berbagai daerah pelosok, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH)
bekerja sama dengan PW Hidayatullah Maluku Utara (Malut) mengadakan kegiatan
upgrading dai.
Acara yang dirangkai dengan silaturrahim kader Hidayatullah
se-Ternate ini mengusung jargon “Pencerahan Kelembagaan” dengan tema “Membangun Ummat Menuju Maluku
Utara Mandiri dan Bermartabat”.
Panitia pelaksana,
Arif Ismail Hanafi, dalam keterangannya kepada media ini mengatakan, acara ini
digelar dalam rangka mendukung kiprah dai ummat yang telah melakukan
pengabdian kemasyarakatan di berbagai wilayah di Maluku, khususnya Ternate.
Peran dai seperti
guru mengaji dan ustadz yang mengelola yayasan sosial dan pondok pesantren,
jelas Arif Hanafi, adalah peran sentral dai dalam pembangunan umat.
Sebab itu, Arif
Hanafi menilai dai harus selau mendapatkan sokongan dari berbagai pihak tidak
saja lembaga zakat dan sebagainya. Tapi juga dai semestinya mendapatkan
perhatian dari pemerintah mengingat perannya adalah sebagai informal leader (pemimpin masyarakat) di sekitarnya.
“Mereka para dai
telah turut serta dalam mewujudkan keberlangsungan pendidikan umat untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah yang kemudian mendorong Laznas BMH
Ternate berkomitmen mendukung perjuangan para dai,” kata Arif Hanafi kepada Hidayatullah.or.id,
Rabu (18/03/2015).
Mencerdaskan umat
kata Arif adalah amanat undang-undang yang mestinya menjadi perhatian bersama.
Pemerintah tentu saja akan kewalahan mengatasi ini sendirian. Maka, jelas Arif,
peran dai, pesantren, dan ormas-ormas Islam, tidak bisa dinafikkan telah
memberi kontribusi positif terhadap pembangunan sumber daya manusia anak
negeri.
“Karenanya, kami
mengucapkan terimakasih sebesarnya kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait
lainnya yang selama ini telah mendukung program keummatan Laznas BMH Ternate
ini,” pungask Arif Hanafi.
Kegiatan yang
diselenggarakan di bilangan Wasile, Halmahera Timur ini berlangsung selama tiga
hari (19-21/2015) yang dihadiri tim instruktur DPP Hidayatullah diantaranya
adalah anggota Dewan Syuro Hidayatullah Al Hafidz Ustadz Aqib Junaid. (ybh/hio)
Senin, 23 Maret 2015
DI ANTARA sejumlah organisasi pemuda islam di
Tanah Air,Syabab Hidayatullah adalah
yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik
sama sekali.
Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.
Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader–kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.
Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu AllahSubhanahu wa Ta’ala (SWT).
Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.
Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.
Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami dimanapun mereka berada.
Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur`ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).
Selanjutnya, mari kita bangun tekad bersama untuk mencerdaskan bangsa melalui dakwah. Jangan merasa ragu untuk berkorban apa saja demi tegaknya Islam di bumi Allah SWT ini. Wallahu a’lam.*
Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader–kadernya di
seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada juga di Timor Leste.
Syabab
Hidayatullah adalah wadah
generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan
tegaknya peradaban Islam.Organisasi ini
bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan
untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.
Kebijakan politik Syabab
Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu
menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi.
Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.
Itulah sebabnya
wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab
Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah
Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang
non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat
ini.
Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader–kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.
Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu AllahSubhanahu wa Ta’ala (SWT).
Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.
Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.
Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami dimanapun mereka berada.
Kini, Syabab
Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan
Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur`an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi
andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.
Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur`ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).
Selanjutnya, mari kita bangun tekad bersama untuk mencerdaskan bangsa melalui dakwah. Jangan merasa ragu untuk berkorban apa saja demi tegaknya Islam di bumi Allah SWT ini. Wallahu a’lam.*
Sistem pendidikan yang terlalu fokus kepada kurikulum, biasanya
tidak pernah memuaskan masyarakat. Sebab, jika ada keluhan mengenai pendidikan,
maka telunjuk langsung mengarah pada kurikulum sebagai biang keroknya.
Bahkan, jika orang-orang yang dihasilkan
dari pendidikan tersebut memiliki perilaku tidak selaras dengan
kebijakan pemerintah, arah tuduhannya tetap kepada kurikulum.
Untuk mengatasi persolan ini kita perlu
mengubah strategi pendidikan. Kita harus kembali kepada strategi pendidikan
yang dilakukan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam (SAW).
Memang, ada banyak strategi pendidikan
yang bisa kita terapkan. Namun, semua itu memiliki konsekuensi. Strategi
pendidikan yang memprioritaskan pada kualitas intelektual, misalnya, cenderung
bersifat kognitif dan mengabaikan sisi afektif.
Adapun sistem pendidikan yang
diterapkan Rasulullah SAW bersifat menyeluruh. Secara kongkrit, output
pendidikan Rasulullah SAW memiliki jati diri, yaitu manusia yang berideologi.
Lantas, apa yang menjadi fokus garapan
Departemen Pendidikan Hidayatullah?
Apakah diarahkan untuk menjawab ketertinggalan intelektual, menyajikan konsep
pendidikan integral, atau sistem pendidikan Rasulullah SAW dalam format
kekinian?
Jika Hidayatullah
ingin mengacu pada format pendidikan Rasulullah SAW, lalu bagaimana
modelnya? Bagaimana pula implementasinya ?
Sistem pendidikan adalah alat
transformasi nilai yang akan diserap oleh anak didik. Di Hidayatullah, transformasi nilai tersebut bisa dilakukan secara klasikal
atau non-klasikal, kooperatif, atau non-kooperatif.
Namun, yang menjadi fokus perhatian bukan
persoalan teknis tersebut, melainkan bagaimana pendidik memahami konsep dasar
pendidikan menurut manhaj Hidayatullah.
Manhaj ini sudah dikenal dengan istilah Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
Pesan inti dari SNW adalah bagaimana
melahirkan insan bertauhid dan mampu mewujudkannya lewat organisasi
imamah-jamaah. Produk dari sistem pendidikan
Hidayatullah adalah SDM yang memiliki visi hidup berjamaah.
Atas dasar itu, pendidikan di Hidayatullah berbasis pada penanaman
nilai–nilai keimanan (akidah/tauhid) yang akan menjadi bekal anak didik untuk
menuntut ilmu yang lebih luas, yaitu pendidikan di masyarakat kelak.
Konsekuensinya, guru atau pendidik di Hidayatullah harus lebih menguasai
konsep dasar (manhaj) ini secara detail sekaligus modal untuk mencerahkan
masyarakat.
Pada zaman jahiliah sebelum Islam turun di
Makkah, ajaran materialisme sangat mendominasi semua sektor kehidupan. Harga
diri seseorang diukur dari seberapa banyak ia memiliki harta. SNW
memberikan alternatif yang jauh lebih baik dari itu.
Semakin terdidik suatu masyarakat, semakin
banyak faktor yang dijadikan pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan.
Sebaliknya, semakin awam masyarakat, semakin sederhana ia mempertimbangkannya.
Mayoritas masyarakat modern dalam memahami
pendidikan sangat memperhatikan faktor–faktor berikut: (1) siapa
mendidik siapa, (2) masyarakat yang mana, (3) kapan dan di mana, (4) untuk
posisi apa peserta didik itu dididik.
Sistem pendidikan sekolah merupakan
mekanisme alokasi posisional. Yakni, masyarakat memberi mandat kepada pihak
sekolah untuk membina anggotanya agar kelak bisa menempati posisi–posisi
tertentu.
Adapun sistem pendidikan Rasulullah
SAW bertujuan memenuhi kebutuhan SDM sebagai cikal bakal eksisnya masyarakat
Qur`ani. Itulah substansi kampus pendidikan yang alamiah, ilmiah, dan Islamiah.
Sekali lagi, model dan metodologi pendidikan
adalah faktor teknis. Yang lebih penting bagaimana model dan jati diri out put
pendidikan di masa depan. SDM yang dihasilkan dari proses pendidikan di Hidayatullah hendaknya mampu menjadi
pemimpin yang berideologi (ideolog leader). *
"Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk, ada Muslim dan non Muslim.Konon,di tempat itu menjadi salah satu sasaran Misionaris.Tepatnaya di lereng wilis,Dusun Turi,Desa Geger,Kecamatan Sendang,Kabupaten Tulungagung,
Jawa Timur.
Sebagai pemula yang
melibatkan diri untuk berkecimpung di medan dakwah, tugas ini tentu berat bagi
saya. Di tempat ini, saya membawa misi menghidupkan kegiatan-kegiatan keislaman
baik melalui jalur pendidikan, mushalla dan masjid serta pembinaan langsung
pada masyarakat.
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.
Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.
Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.
Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.
Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.
Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.
Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.
Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.
Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.
Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.
Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.
Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.
Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
Jumat, 26 Desember 2014
Tulisan inspiratif ini kami ambil dari BMH Surabaya semoga menjadi ibrah dan meningkatkan semangat dakwah kita,
Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk; ada Muslim dan non Muslim. Konon, di tempat itu juga menjadi salah satu sasaran misionaris. Tepatnya di lereng wilis, Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Sebagai pemula yang melibatkan diri untuk berkecimpung di medan dakwah, tugas ini tentu berat bagi saya. Di tempat ini, saya membawa misi menghidupkan kegiatan-kegiatan keislaman --baik melalui jalur pendidikan, mushalla dan masjid-- serta pembinaan langsung pada masyarakat.
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.
Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.
Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.
Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.
Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.
Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.
Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
[Muttaq ‘alaih].*/dikisahkan oleh Subliyanto
Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk; ada Muslim dan non Muslim. Konon, di tempat itu juga menjadi salah satu sasaran misionaris. Tepatnya di lereng wilis, Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Sebagai pemula yang melibatkan diri untuk berkecimpung di medan dakwah, tugas ini tentu berat bagi saya. Di tempat ini, saya membawa misi menghidupkan kegiatan-kegiatan keislaman --baik melalui jalur pendidikan, mushalla dan masjid-- serta pembinaan langsung pada masyarakat.
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.
Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.
Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.
Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.
Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.
Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.
Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
[Muttaq ‘alaih].*/dikisahkan oleh Subliyanto




