Lembaga Amil Zakat Nasional

Selama 20 tahun dipercaya mengelola dana ZAKAT, INFAK, SEDEKAH dari para dermawan untukk kebaikan Ummat

Daftar Jadi Donatur Daftar jadi Relawan

Our Services

Program Dakwah

Ujung tombak para penyeru kebaikan di daerah pelosok, terdalam dan terluar di seluruh NUSANTARA perlu kita dukung dengan program berbagi kebaikan

Read More

Program Pendidikan

Pendidikan menjadi pilar pembangunan Nasional untuk Indonesia lebih baik lagi. Layakkan pendidikan bagi anak generasi kita

Read More

Program Ekonomi

Ayo Bangkit dari keterpurukan perekonomian pasca pandemi dengan program kemanfaatan untuk pelaku usaha UMKM di Indonesia

Read More

Sosial Kemanusiaan

Bencana yang kerap melanda negeri kita menjadi moment terbaik kita untuk saling membantu dan meringankan beban penyitas bencana alam tersebut

Read More

Laporan Kegiatan kami

Senin, 23 Maret 2015

Jati Diri pendidikan Nasional



Sistem pendidikan yang terlalu fokus kepada kurikulum, biasanya tidak pernah memuaskan masyarakat. Sebab, jika ada keluhan mengenai pendidikan, maka telunjuk langsung mengarah pada kurikulum sebagai biang keroknya.

Bahkan, jika orang-orang yang dihasilkan dari pendidikan tersebut memiliki perilaku tidak selaras dengan kebijakan pemerintah, arah tuduhannya tetap kepada kurikulum.
Untuk mengatasi persolan ini kita perlu mengubah strategi pendidikan. Kita harus kembali kepada strategi pendidikan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).
Memang, ada banyak strategi pendidikan yang bisa kita terapkan. Namun, semua itu memiliki konsekuensi. Strategi pendidikan yang memprioritaskan pada kualitas intelektual, misalnya, cenderung bersifat kognitif dan mengabaikan sisi afektif.
Adapun sistem pendidikan yang diterapkan Rasulullah SAW bersifat menyeluruh. Secara kongkrit, output pendidikan Rasulullah SAW memiliki jati diri, yaitu manusia yang berideologi.
Lantas, apa yang menjadi fokus garapan Departemen Pendidikan Hidayatullah? Apakah diarahkan untuk menjawab ketertinggalan intelektual, menyajikan konsep pendidikan integral, atau sistem pendidikan Rasulullah SAW dalam format kekinian?
Jika Hidayatullah ingin mengacu pada format pendidikan Rasulullah SAW, lalu bagaimana modelnya? Bagaimana pula implementasinya ?
Sistem pendidikan adalah alat transformasi nilai yang akan diserap oleh anak didik. Di Hidayatullah, transformasi nilai tersebut bisa dilakukan secara klasikal atau non-klasikal, kooperatif, atau non-kooperatif.
Namun, yang menjadi fokus perhatian bukan persoalan teknis tersebut, melainkan bagaimana pendidik memahami konsep dasar pendidikan menurut manhaj Hidayatullah. Manhaj ini sudah dikenal dengan istilah Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
Pesan inti dari SNW adalah bagaimana melahirkan insan bertauhid dan mampu mewujudkannya lewat organisasi imamah-jamaah. Produk dari sistem pendidikan Hidayatullah adalah SDM yang memiliki visi hidup berjamaah.
Atas dasar itu, pendidikan di Hidayatullah berbasis pada penanaman nilai–nilai keimanan (akidah/tauhid) yang akan menjadi bekal anak didik untuk menuntut ilmu yang lebih luas, yaitu pendidikan di masyarakat kelak.
Konsekuensinya, guru atau pendidik di Hidayatullah harus lebih menguasai konsep dasar (manhaj) ini secara detail sekaligus modal untuk mencerahkan masyarakat.
Pada zaman jahiliah sebelum Islam turun di Makkah, ajaran materialisme sangat mendominasi semua sektor kehidupan. Harga diri seseorang diukur dari seberapa banyak ia memiliki harta. SNW memberikan alternatif yang jauh lebih baik dari itu.
Semakin terdidik suatu masyarakat, semakin banyak faktor yang dijadikan pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan. Sebaliknya, semakin awam masyarakat, semakin sederhana ia mempertimbangkannya.
Mayoritas masyarakat modern dalam memahami pendidikan sangat memperhatikan faktor–faktor berikut: (1) siapa mendidik siapa, (2) masyarakat yang mana, (3) kapan dan di mana, (4) untuk posisi apa peserta didik itu dididik.
Sistem pendidikan sekolah merupakan mekanisme alokasi posisional. Yakni, masyarakat memberi mandat kepada pihak sekolah untuk membina anggotanya agar kelak bisa menempati posisi–posisi tertentu.
Adapun sistem pendidikan Rasulullah SAW bertujuan memenuhi kebutuhan SDM sebagai cikal bakal eksisnya masyarakat Qur`ani. Itulah substansi kampus pendidikan yang alamiah, ilmiah, dan Islamiah.
Sekali lagi, model dan metodologi pendidikan adalah faktor teknis. Yang lebih penting bagaimana model dan jati diri out put pendidikan di masa depan. SDM yang dihasilkan dari proses pendidikan di Hidayatullah hendaknya mampu menjadi pemimpin yang berideologi (ideolog leader). *

Sebaik Baik Manusia yang Membawa Manfaat








  "Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk, ada Muslim dan non Muslim.Konon,di tempat itu menjadi salah satu sasaran Misionaris.Tepatnaya di lereng wilis,Dusun Turi,Desa Geger,Kecamatan Sendang,Kabupaten Tulungagung,
Jawa Timur.


Sebagai pemula yang melibatkan diri untuk berkecimpung di medan dakwah, tugas ini tentu berat bagi saya. Di tempat ini, saya membawa misi menghidupkan kegiatan-kegiatan keislaman baik melalui jalur pendidikan, mushalla dan masjid serta pembinaan langsung pada masyarakat.
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.

Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.

Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.

Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.

Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.

Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.

Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”

Jumat, 26 Desember 2014

Berguna Bagi Sesama

Tulisan inspiratif ini kami ambil dari BMH Surabaya semoga menjadi ibrah dan meningkatkan semangat dakwah kita,

Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk; ada Muslim dan non Muslim. Konon, di tempat itu juga menjadi salah satu sasaran misionaris. Tepatnya di lereng wilis, Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.


Sebagai pemula yang melibatkan diri untuk berkecimpung di medan dakwah, tugas ini tentu berat bagi saya. Di tempat ini, saya membawa misi menghidupkan kegiatan-kegiatan keislaman --baik melalui jalur pendidikan, mushalla dan masjid-- serta pembinaan langsung pada masyarakat.
Awal kedatangan saya diterima oleh Pak Trimo, salah satu warga di Dusun Turi yang mempunyai rumah besar dan luas. Di situlah saya tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mereka selama menjalankan tugas.

Tugas pertama saya disambut cuaca dingin. Tiada hari tanpa hujan, dan tiada hari tanpa kabut. Karena itu saban hari harus menggunakan jaket. Kala itu, sempat terbersit ingin pulang karena kondisi cuaca dingin yang tidak bersahabat dengan tubuh saya. Namun keinginan itu saya tahan, dan saya kuatkan dengan motivasi diri agar tetap melaksanakan tugas dan tidak pulang sampai tugas selesai dan berhasil.
Atas saran dan arahan tokoh setempat, saya memulai tugas dengan menghidupkan kegiatan pembelajaran al-Qur’an yang sudah libur di mushalla.
Kegiatan utama saya di mushalla adalah mengisi pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak dan juga ibu-ibu. Sementara untuk kegiatan di masjid saya diberi tugas untuk menjadi bilal dan sesekali sebagai khatib Jum’at.

Dengan bekal ilmu sebagai bilal dan khatib Jum’at yang dulu pernah saya pelajari waktu menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, saya laksanakan tugas itu dengan enjoy. Sungguh hal yang sangat menyenangkan bisa mengamalkan ilmu yang saya pelajari di bangku sekolah dahulu.

Kegiatan rutin lain, adalah mengisi kegiatan tahlil ibu-ibu kampung setiap hari Ahad siang. Alhamdulillah karena dulu saya dilahirkan dilingkungan Nahdiyin sehingga tidak mengalami kesulitan dalam tugas itu.

Saya juga mengajarkan seni hadrah. Sebagai mantan vokalis hadrah tentunya saya mempunyai pengalaman dan tahu bagaimana cara memainkannya. Masyarakat khususnya ibu-ibu sangat antosias mengikuti sehingga kesenian ini menjadi bagian dari rangkain kegiatan tahlilan.

Yang terakhir dari aktivitas saya selama di Dusun Turi adalah terjun di lembaga pendidikan dengan mengajar dan mendampingi murid dalam beraktivitas. Lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat saya adalah SD dan SMP, sehingga tempat itulah yang menjadi pilihan saya untuk melaksanakan aktivitas mengajar.

Pengalaman ini menjadi kenangan dan pelajaran bagi saya, sehingga membuat saya termotivasi untuk senantiasa terus belajar, belajar, dan belajar. Sesungguhnya, semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak pula peluang baginya untuk menebarkan manfaat bagi sesama. Sebagaimana hadits Nabi;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
 [Muttaq ‘alaih].*/dikisahkan oleh Subliyanto

BMH Salurkan Kepedulian 3 sekolah favorit di cirebon

Berbagi ngak sendiri,.
Ya Anda tidak sedirian dalam berbagi kepedulian terhadap sesama.
Bersama Kita Bisa !!

Begitulah slogan kebersamaan untuk berbagi keceriaan terhadap paran pengungsi korban longsor Banjarnegara.





Kiprah BMH di kota Cirebon rupanya mendapat sambutan yang luar biasa dari masayarakat luas termasuk lembaga pendidikan yang ada di kota udang itu. Beberapa sekolah negeri dan swasta di Cirebon mengambil peran dalam sedekah peduli bencana yang digagas BMH.


Sebut saja Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Cirebon. Sekolah yang berlokasi di Jalan Pemuda nomor 16 kota Cirebon ini pada pertengahan Februari yang lalu, memberikan beberapa bantuannya kepada korban bencana melalui BMH Cabang Cirebon seperti pakaian layak pakai, makanan ringan, dan sejumlah uang yang dihimpun langsung oleh pihak sekolah dari para guru dan siswa.

“Bantuan ini dari siswa-siswi SMPN 4 yang ikut peduli terhadap negeri yang dilanda bencana ini. Semoga bantuan tersebut dapat bermanfaat bagi para korban bencana,” ujar Kepala SMPN 4 Cirebon kepada Ismail, Kepala Cabang BMH Cirebon saat penyerahan bantuan.

Sementara itu, dua hari setelahnya (17/12), giliran MAN 2 Cirebon memberikan bantuan kebencanaan melalui BMH. “Alhamdulillah respon kepedulian masyarakat Cirebon pada saudara sebangsanya masih cukup tinggi, termasuk para generasi muda seperti yang dilakuan oleh siswa dan siswi MAN 2 Cirebon ini yang rela menyisihkan uang sakunya dan beberapa bantuan lainnya kepada para korban melalui BMH. Subhanallah, ini patut dicontoh oleh sekolah-sekolah lain,” tutur Ismail sesaat setelah serah terima dari Kepala Sekolah MAN 2 Cirebon.

Masih menurut Ismail, kepedulian sekolah-sekolah yang ada di Cirebon sebenarnya tidak hanya dari dua sekolah di atas. Sebelumnya SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon juga menyerahkan bantuan sedekah peduli bencana melalui BMH.

Sedekah Peduli Bencana Nusantara

Siapa yang ingin diterpa bencana ?, jelas tiada seorangpun yang berharapnya.   Namun Allah punya rencana dengan alam ini. Banjir, longsor, gempa dan sebagainya adalah kejadian alam yang diluar kehendak kita. Yang jelas mempersiapkan segala kemungkinan akan terjadinya hal ini adalah kewajiban kita.  Mari berbagi Sedekah Peduli Bencana Nusantara melalui BMH.

Musibah longsor yang menimpa saudara kita di Banjarnegara sungguh sangat luar biasa. 100 orang dilaporkan tertimbun longsoran. Dan, sampai sore tadi, baru 18 korban yang berhasil dievakuasi.

Proses evakuasi terpaksa dihentikan karena lokasi yang diguyur hujan deras. “Insya Allah besok evakuasi akan dilanjut dan kami bersama tim SAR akan ikut membantu proses evakuasi lanjutan,” ujar Muslim Korlap Siaga Bencana Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang sudah siaga di lokasi.


Untuk sampai di Kota Banjarnegara relatif normal. Akan tetapi, dari Kota Banjarnegara ke lokasi memerlukan waktu yang cukup lama, karena jalur utama juga tertutup longsor.

Dari Kebumen normal 2 jam, tapi tadi dari Kota Banjar ke lokasi memakan waktu sekitar 3 jam. Ini karena medan yang sulit dan jalur utama terputus timbunan longsor. Bahkan alat berat belum bisa tembus ke lokasi.

Sejauh ini, menurut pantauan Korlap BMH yang berada di lokasi, tepatnya di Dusun Jemblung Sampang Kecamatan Karang Kobar Banjarnegara tercatat ada 15 posko dengan masing-masing posko terdiri dari 100-200 pengungsi.

“Pengamatan kami mencatat sudah ada 15 posko pengungsian, yang masing-masing posko diisi sekitar 100-200 jiwa,” rinci Muslim.

“Para pengungsi memerlukan bantuan segera berupa logistik dan selimut karena cuaca dingin pegunungan dan masih cukup sering hujan,” imbuhnya.

Sementara itu BMH dalam aksi bantuan pertama ini baru bisa menyalurkan bantuan berupa logstik selimut, makanan instan, alas tidur, dan lain sebagainya. “Alhamdulillah, BMH sudah salurkan bantuan, tetapi ini masih belum seberapa,” ungkapnya.

Dalam Aksi Siaga Bencana Nusantara ini BMH bekerjasama dengan SAR Hidayatullah dan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Banjarnegara. Sinergi juga dengan LAZ dan relawan Indonesia.

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Kontak Kami

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah BMH tetap berkhidmat bersama Ummat - WA 0851.0471.7000

Alamat:

Jalan Sidomakmur 15 Sengkaling Dau Malang

Jam Kerja:

Senin sampai Jumat pUkul 08.00 hingga 16.30

Phone:

0851.0471.7000

Recent Comments

Recent Posts